Beranda » Ibnu Taymiah Menolak Setiap Nash Keutamaan Ali ra » Ayat Turun Untuk Imam Ali as. adalah Palsu!!

Ayat Turun Untuk Imam Ali as. adalah Palsu!!

Ayat Turun Untuk Imam Ali as. adalah Palsu!!

Ibnu Taymiah memiliki keberanian yang luar biasa dan tak tertandingi dalam menolak dan meremehkan setiap keutamaan Imam Ali as. dalam Alqur’an seperti diriwayatkan para pembesar ulama Ahlusunnah dalam buku-buku mereka. Betapa banyak sabahat, para perawi dan para ulama -baik langsung maupun tidak- yang ia tuduh telah berbohong! Tidak mungkin rasanya menyebutkan semua contoh keberanian itu, tetapi paling tidak beberapa darinya mesti kita sebutkan agar dapat dijadikan tolok ukur bagi kasus-kasus lainnya.

Ayat al-Wilayah

Allah SWT berfirman:

إِنمَّاَ وَلِيُّكُمُ اللهُ وَ رَسُوْلُهُ وَ الَّذِيْنَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةَ وَ يُؤْتُوْنَ الزَّكَاةَ وَ هُمْ رَاكِعُوْنَ * وَ مَنْ يَتَوَلَّ اللهَ وَ رَسُوْلَهُ وَ الَّذين آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللهِ هُمُ الْغَالِبُوْنَ . (المائدة 55-56

“Sesungguhnya wali kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk {kepada Allah}. Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut {agama} Allah itulah yang pasti menang. (QS:5;55-56)

Para ulama dan mufassir besar Ahlusunnah telah meriwayatkan tentang sebab turunnya ayat tersebut berkaitan dengan Imam Ali as. ketika beliau mensedekah cincinya kepada seorang pengemis di masjid Nabi saw.

Diriwayatkan oleh para ulama bahwa Abu Dzar al-Ghifari menceritakan di hadapan halayak yang sedang berkumpul mendengarkannya,“Aku telah mendengar Rasulullah saw. dengan kedua (telingaku) ini, (dan Abu Dzar menambahkan):…tulilah keduanya jika aku berdusta (kemudian katanya lagi) dan telah aku saksikan beliau dengan kedua mataku ini, dan butalah keduanya jika aku berdusta, “Sabda Rasulullah saw.: Ali adalah pemimpin kelompok orang-orang yang tulus, pejuang yang memerangi kaum kafir, jayalah siapa yang membantunya, hinalah siapa yang menelantarkan dukungan baginya!”

Dan Abu Dzar melanjutkan,” Suatu hari aku shalat bersama Rasulullah saw. maka masuklah ke masjid seorang pengemis dan tidak seorang pun memberinya sesuatu, pada saat itu Ali sedang shalat dalam keadaan ruku’ dan ia memberi isyarat dengan jari manisnya yang bercincin, lalu pengemis itu menghampirinya dan mengambil cincin itu dari jari Ali, Rasulullah menyaksikan hal itu dan beliau berdo’a dengan khusyu’nya kepada Allah, “Ya Allah sesungguhnya Musa telah memohon kepadamu:

Berkata Musa, “Ya Tuhan-ku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun; saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Mengetahui (keadaan) kami”.(QS:20;25-35).

Maka Engkau telah mewahyukan kepadanya:

قد أُوْتِيْتَ سُؤْلَكَ يَا مُوْسَى ….

Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa.”

Dan aku, ya Allah –kata Rasulullah saw.- adalah hamba dan Nabi-Mu lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan jadikanlah untukku seorang wazir dari keluargaku; Ali, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku”. Abu Dzar berkata. ” Demi Allah, beliau belum sampai menyelasaikan ucapan (do’anya) melainkan Jibril al-Amin turun dengan membawa ayat ini”.

Hadis di atas dan penegasan bahwa ayat tersebut turun dalam kejadian itu, telah diriwayatkan oleh banyak ulama besar, para mufassir dan ahli hadis, di bawah ini akan kami sebutkan sebagian nama-nama mereka:

1. Al-Ghadhi Abu Abdillah bin Umar al-Madani al-Waqidi (W:207 H.) sebagaimana dikutip oleh Muhibbuddin al Thabari dalam Dzakhair al-Uqba-nya,102.

2. Al-Hafidz Abu Bakar Abdul Razzaq al-Shan’ani (W:211) sebagaimana disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir 2/71 dari jalur Abdul Wahhab bin Mujahid dari Ibnu Abbas.

3. Al-Hafidz Abu al-Hasan Utsman bin Abi Syaibah al-Kufi (W:239 H.) dalam tafsirnya.

4. Abu Ja’far al-Iskafi al-Mu’tazili (W:240 H.).

5. Al-Hafidz Abdu bin Humaid al-Kasyi (W:249H.) dalam tafsirnya sebagaimana disebut dalam tafsir al-Durr al-Mantsur.

6. Abu Said al-Asyaj al-Kufi (W:257 H.) dalam tafsirnya dari Abu Nu’aim Fadel bin Da’im dari Musa bin Qais al-Hadhrami dari Salamah bin Kuhail. Jalur ini sahih dan para perawinyan tisqah, terpercaya.

7. Al-Hafidz Abu Abdu Rahman al-Nasa’i al-Syafi’i dalam kitab Sunannya.

8. Ibnu Jarir al-Thabari (W:310 H.) dalam tafsirnya.6:186 dari beberapa jalur.

9. Ibnu Abi Haitm al-Razi (W:327 H.) sebagaimana dikutib dalam tafsir Ibnu Katsir, al-Durr al-Mantsur dan Lubab al-Nuqul karya al-Suyuthi dari jalur Abu Said al-Asyajj di atas.

10. Al-Hafidz Abu al-Qasim al-Thabarani (W:360 H.) dalam kitab Mu’jam al-Ausathnya.

11. Al-Hafidz Abu Syeikh Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad al-Anshari (W:369 H.) dalam kitab tafsirnya.

12. Al-Hafidz Abu Bakar al-Jashshash al-Razi (W:370 H.) dalam Ahkam al-Qur’annya.2,542 dari beberapa jalur.

13. Abu al-Hasan Ali bin Isa al-Rummani (W:384 H.) dalam tafsirnya.

14. Al-Hakim Ibnu al-Bayyi’ (W:405 H.) dalam kitab Ma’rifat Ushul al-Hadits, 102.

15. Al-Hafidz Abu Bakar Ibnu Mardawaih al-Ishbahani (W:416 H.) dari jalur Sufyan al-Tsauri dari Abu Sinan bin Said bin Sinan al-Barjani dari al-Dhahhak dari Ibnu Abbas. Jalur ini shahih dan para perawinya tsiqah ia juga meriwayatkan dari jalur lain yang ia katakana bahwa jalur ini tidak dapat dicacat dan ada jalur lain dari Ali as. Ammar dan Abi Rafi’ ra.

16. Abu Ishak al-Tsa’labi al-Nisaburi (W:427 atau 437 H.) dalam tafsirnya dari Abu Dzar seperti dalam riwayat di atas.

17. Al-Hafidz Abu Nu’aim al-Ishfahani (W:430 H.) dari Ammar, Abu Rafi’, Ibnu Abbas, Jabir bin Abdillah atau Salamah bin Kuhail.

18. Abu al-Hasan al-Mawardi al-Faqih al-Syafi’i (W: 450 H.) dalam tafsirnya.

19. Al-Hafidz Abu Bakar al-Baihaqi (W:458 H.) dalam kitabnya al-Mushannaf.

20. Al-Hafidz Abu Bakar al-Khatib al-Baghdadi al-Syafi’i (w: 463 H.) dalam kitab al-Muttafaqnya.

21. Abu al-Qasim Zainul Islam Abdul Karim bin Hawazin al-Nisaburi (W:465 H.) dalam tafsirnya.

22. Al-Hafidz Abu al-Hasan al-Wahidi al-Nisaburi (W:468 H.) dalam Asbab Nuzulnya,133 dari Jabir dan Ibnu Abbas.

23. Al-Faqih Ibnu al-Maghazili al-Syafi’i (W:483 H.) dalam kitab Manaqibnya dari lima jalur; dari Ibnu Abbas dan Imam Ali as., hadis nomer 354-358.

24. Abu Yusuf Abdus Salam bin Muhammad al-Qazwaini (W:488 H.) dalam karya besarnya tafsir al-Qur’an. Al-Dzahabi menyebutkan bahwa tafsir itu terdiri dari tiga ratus juz. Abu Yusuf adalah tokoh besar mazhab Mu’tazilah.

25. Al-Hafidz Abu al-Qasim al-Hakim al-Hiskani (W:490 H.) dari jalur Ibnu Abbas, Abu Dzar dan Abdullah bin Salam.

26. Al-Faqih Abu al-Hasan Ali bin Muhammad al-Kiya al-Thabari al-Syafi’i (W:504 H.) dalam tafsirnya, dan ia berdalil dengannya bahwa gerakan sedikit dalam shalat tidak membatalkannya dan shadaqah sunnah juga dapat disebut dengan zakat. Demikian dikutip oleh al-Qurthubi dalam tafsirnya.

27. Al-Hafidz Abu Muhammad al-Farra’ al-Baghawi al-Syafi’i (W:516 H.) dalam tafsirnya Ma’alim al-Tanzil dicetak dipinggiran tafsir al-Khazin.2:67.

28. Abu Hasan Razin al-’Ahdari al-Andalusi (W:535 H.), disebutkan dalam kitab al-Jam’u Baina al-Shihah al-Sitta dari Shahih al-Nasa’i.

29. Al-Zamakhsyari al-Hanafi (W:538 H.) dalam tafsirnya al-Kasysyaf.1:624.

30. Al-Hafidz Abu Sa’ad al-Sam’ani al-Syafi’i (W:562 H.) dalam kitab Fadlail al-Shahabah dari Anas bin Malik.

31. Abu al-Fath al-Thanzi (lahir tahun 480 H.) dalam kitab al-Khashaish al-’Alawiyah dari Ibnu Abbas dan dalam kitab al-Ibanah dari Jabir bin Abdillah al-Anshari.

32. Al-Imam Abu Bakar bin Sa’adun al-Qurthubi (W:567 H.) dalam tafsirnya 6/221.

33. Al-Khawarizmi (W:568 H.) dalam kitab al-Manaqibnya.178 dari dua jalur, dan ia menyebutkan sya’ir Hassaan ibn Tsabit tentang hal ini.

34. Al-Hafidz Abu al-Qasim Ibnu ‘Asakir al-Dimasqi (W:571 H.) dalam kitabnya Tarikh al-Syam dari beberapa jalur.

35. Al-Hafidz Abu al-Faraj Ibnu Jauzi al-Hambali (W:591 H.) sebagaimana dikutib dalam kitab al-Riyadl al-Nadhirah.2,178 dan 208 dan Dzakhair al-Uqba,102.

36. Abu Abdillah Fakhruddin al-Razi al-Syafi’i (W:606 H.) dalam tafsirnya Mafatih al-Qhaib.3,431 dari Atha’ dari Abdullah bin Sallam, Ibnu Abbas dan Abu Dzar.

37. Abu al-Sa’adat Mubarak bin al-Atsir al-Syaibani al-Jazari al-Syafi’i (W:606 H.) dalam kitab Jami’ al-Ushulnya dari jalur al-Nasa’i.

38. Abu Salim Muhammad bin Thalhah al-Nashiibi al-Syafi’i (W:626 H.) dalam kitabnya Mathalib al-Suul dari riwayat Abu Dzar.

39. Abu al-Mudzaffar sibthu Ibnu Jauzi al-Hanafi (W:654 H.) dalam Tadzkirat al-Khawashnya,9 menukil dari al-Suddi, ‘Utbah dan Ghalib bin Abdillah. Ia menyebutkan bait sya’ir Haasaan.

40. Izzuddin Ibnu Abi al-Hadid al-Mu’tazili (W:655 H.) dalam kitabnya Syarh Nahj al-Balaghah.3,275.

41. Al-Hafidz Abu Abdillah al-Kinji al-Syafi’i (w: 658 H.) dalam Kifayah al-Thalibnya:106, dari Jabir bin Anas bin Mali. Ia juga memuat bait-bait sya’ir Hassaan ibn Tsabit. Dan dalam hal.122 dari jalur Ibnu ‘Asakir, al-Khawarizmi, Hafidz al-’Iraqain, Abu Nuaim Dan al-Ghadhi Abu al-Ma’ali.

42. Al-Ghadli Nashiruddin al-Baidhawi al-Syafi’i (W:685 H.) dalam tafsirnya 1/345, dan dalam Mathali’ al-Anwaar,477-479.

43. Al-Hafidz Abu al-Abbas Muhibbuddin al-Thabari al-Syafi’i (W;694 H.) dalam al-Riyadl al-Nadhirah.2,170 dan 208 dan Dzakhair al-Uqba.12 dari jalur al-Wahidi, al-Waqidi, Ibnu Jauzi dan al-Fudlaili.

44. Hafidz al-Din al-Nasafi (W:701 atau 710 H.) dalam tafsirnya,1/224.

45. Syeikhul Islam al-Hamwaini (W:722 H.) dalam Faraid al-Simthainnya dan ia menyebutkan bait-bait Syair Haasaan.

46. ‘Alauddin al-Khazim al-Baghdadi (W:741 H.) dalam tafsirnya juz, 2 hal, 67.

47. Syamsuddin Mahmud bin Abu al-Qasim Abdul Rahman al-Isfahani (W: 746 atau 749 H.) dalam kitab Tasyyiid al Qawaid l-’Aqaid fi Syarhi Tajrid al ‘Aqaaid, ia menyebutkan kesepakatan para mufassirin bahwa ayat ini turun untuk Ali bin Abi Thalib as.

48. Jamaluddin Muhammad bin Yusuf al-Zarandi (W:750 H.) dalam kitabnya Nadzmu Durar al-Simthain:86-88 dari Ammar dan Ibnu Abbas dalam bab khusus tentang ayat-ayat yang turun untuk Ali as. Ia juga menyebutkan bait-bait sya’ir Hassaan.

49. Abu Hayyan al-Andalusi (W:754 H.) dalam tafsir al-Bahrul al-Muhithnya 3/514.

50. Al-Hafidz Muhammad bin Ahmad bin Juzzi al-Kalbi (W:758 H.) dalam tafsir al-Tashilnya.1,181.

51. Al-Qadhi Al Iji al-Syafi’i (W:756 H.) dalam Mafaqifnya.:405.

52. Nidzamuddin al-Qummi al-Nisaburi dalam tafsirnya Gharaib al-Qur’an. 3,461.

53. Al-Tiftazani al-Syafi’i (W:791 H.) dalam Syarh al-Maqashid.2,288, ia juga menegaskan adanya kesepakatan para mufassir dalam masalah ini.

54. Al-Jurjani (W:816 H.) dalam Syarh al-Mawaqif.

55. Al-Qausyaji (W:879 H.) dalam Syarh al-Tajrid, ia juga mengakui adanya kesepakatan para mufassir dalam hal ini.

56. Ibnu al-Shabbaqh al-Makki al-Maliki (W:855 H.) dalam kitabnya al-Fushul al-Muhimmah hal. 123.

57. Jalaluddin al-Suyuthi dalam tafsirnya al-Durr al-Manstur.2,293 dari jalur al-Khatib, Abdul Razzaq, Abdu bin Humaid, Ibnu Jarir, Abu Syeikh, Ibnu Mardawaih dari Ibnu Abbas. Dari jalur al-Thabarani, Ibnu Mardawaih dari Ammar bin Yasin. Dari jalur Abu Syeikh dan al-Thabarani dari Ali as. Dari jalur Ibnu Abi Hatim, Abu Syeikh, dan Ibnu ‘Asakir dari Salamah bin Kuhail. Dari jalur Ibnu Jarir dari Mujahid, al-Suddi dan Uthah bin Hakim. Dan dari jalur al-Thabrani, Ibnu Mardawaih dan Abu Nu’aim dari Abu Rafi’. Dan dalam kitab Lubab al-Nuquhnya hal. 93 dari jalur-jalur yang telah lewat, kemudian ia berkata, ” Dan ini adalah bukti-bukti yang saling mendukung”. Dan dalam kitab Jam’u al-Jawami’nya hal. 391 dari jalur al-Khatib dari Ibnu Abbas dan hal. 405 dari jalur Abu Syeikh dan Ibnu Mardawaih dari Ali as. Dalam kitab Iklilnya hal. 93, ia mengutip komentar Ibnu al-Furs bahwa ayat itu menunjukkan bahwa gerakan yang sedikit dalam shalat tidak membatalkannya dan shadaqah sunnah juga disebut zakat, karena sebab turunnya ayat ini berkaitan dengan sedekah Imam Ali as. kepada seorang pengemis ketika beliau dalam keadaan ruku’.

58. Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Haitami al-Anshari al-Syafi’i (W:974 H.) dalam kitab Shawaiqnya:41.

59. Al-Maula Hasan Jalbi dalam Syarh al-Mawaqif.

60. Al-Maula Mas’ud al-Syarwani dalam Syarh al-Mawaqif.

61. Al-Gadhi al-Syaukani (W:1250H) dalam tafsirnya Fath al-Qadir.2,53.

62. Al-Sayyid Mahmud al-Alusi al-Syafi’i (W:1270 H.) dalam kitabnya Yanabi’ al-Mawaddah hal. 212.

63. Al-Sayyid Muhammad Mu’min asy-Syablanji dalam Nur al-Abshar hal. 86-87 dari riwayat Abu Dzar diatas.

64. Syeikh Abdul Qadir bin Muhammad al-Sa’ud al-Kurdistani (W:2304 H.) dalam kitab Taqrib al-Maram.

65. Al-Shawi al-Maliki al-Khalwani (W:1241 H.) dalam Hasyiyah tafsir al-Jalalain,1/273.

66. Dll.

Setelah ini semua datanglah Ibnu Taymiah mengatakan::

وَقَدْ وَضَعَ بَعْضُ الكَذَّابِيْنَ حَدِيْثًا مُفْتَرًى: أَنَّ هذه الآيَةَ نَزَلَتْ فِيْ عليٍّ لَمَّا تَصَدَّقَ بِخاتَمِهِ في الصلاةِ، و هذا كِذْبٌ بِإِجماعِ أهِلِ العِلْمِ بالنقْلِ، كِذْبَُهُ بيِّنٌ مِنْ وُجوهٍ كَثِيْرَةٍ.

“Para pembohong telah memalsukan hadis buatan bahwa ayat انما وليكم الله …” turun untuk Ali ketika ia mensedekahkan cincinnya dalam shalat, itu adalah bohong/palsu berdasarkan kesepakatan para ulama dan Ahli Hadis, dan kebohongannya telah tampak dari banyak sisi.”[1]

Dalam kesempatan lain ia kembali mengatakan:

قولُهُ: قَجْ أجْمَعَوا أنَّها نزَلَتْ فيِ علِيٍّ مِنْ أَعْظَمِ الدَعاوِيْ الكاذِبَةِ، بَلْ أَجْمَعَ أهْلُ العلْمِ بالنقْلِ على أنَّها لَمْ تَنْزِلْ في علِيٍّ بخُصُوصِهِ، أنَّ عليًّا لِمْ يَتَصضدَقْ بِخاتَمِهِ في الصلاةِ، و أجمَعَأهْلُ العلْم بالحديثِ على أنَّ القصَّةَ الْمروِيَّةَ في ذلِكَ مِن الكذبِ الموضوعِ….

“Ucapannya bahwa ayat ini telah disepakati turun untuk Ali adalah paling dustanya pengakuan. Bahkan para ulama ahli hadis telah bersepakat bahwa ia tidak khusus turun untuk Ali, dan Ali tidak mensedekahkan cincinnya. Para ulama ahli hadis telah bersepakat bahwa kisah yang diriwayatkan tentang masala itu adalah kobohongan dan palsu….”[2]

Dari dua penyataan Ibnu Taymiah yang saya kutip di atas dapat dilihat bahwa:

Pertama, Telah tampak jelas bahwa Ibnu Taymiah tidak memiliki harga diri yang dapat mencegahnya dari berbohong!

Kedua, Jika ia bermaksud untuk menegakkan argument, -betapapun ia hadis yang lemah, atau mursal, atau bahkan palsu sekalipun- ia tidak segan-segam menisbatkannya kepada para ulama, atau menyebutnya begitu saja seakan sebuah hadis pasti. Sementara itu, jika hendak menolak sebuah hadis- betapapun ia sahih, dan diriwayatkan para ulama dan pembesar ahli tafsir, ahli fikih atau ahli hadis, seperti hadis sebab turun yang sedang kita kaji sekarang ini-, ya jika ia bermaksud menolaknya ia tidak malu-malu untuk mengatakannya, ‘Palsu!’ ‘Kebohongan belaka! Bahkan menisbatkannya kepadsa ijma’ para ahli hadis ! Para ulama, para pakar dan para imam ahli hadis telah bersepakat membohongkan dan menolak hadis itu atau hadis ini, dls.

Ketiga, Di antara para ulama yang meriwayatkan hadis di atas ada banyak ulama yang sering kali diandalkan Ibnu Taymiah dan diterima riwayat-riwayatnya! Jika mereka dalam pandangan Ibnu Taymiah adalah para pembohong (seperti yang ia katakan) bagaimana berhujja dengan riwayat mereka di tempat lain? Jika bukan pembohong, mengapa sekarang, dalam kesempatan ini ia mengatakan dengan terang-terangan bahwa mereka adalah kadzdzabûn, para pembohong! Pendusta dan pemalsu!

Dari sini jelaslah bagi kita siapa sejatinya Ibnu Taymiah, dan tidak salahlah para ulama Ahlusunnah yang mengatakannya sebagai hamba yang sesat yamng dihinakan Allah SWT.

Catatan:

Dan sebagai tambahan informasi tentang orang yang bersedekah yang dimaksud dalam ayat di atas, maka saya sebutkan beberapa riwayat tentannya sebagaiamana diriwayatkan para ahli hadis Ahlusunnah.

1. Abu Dzar al-Ghiffari (W:32H). Telah lewat pada awal kajian kita riwayat dan nama-nama buku yang memuatnya.

2. Al-Miqdad bin al-Aswad al-Kindi (lahir 37 tahun sebelum hijriah dan wafat tahun 33 setelah hijriah). Riwayat beliau disebutkan oleh al-Hakim al-hiskami dalam kitabnya Syawahid al-Tanzil juz 1 hal 171

3. Abu Rafi’ al-Qibthi, ia adalah salah seorang budak Rasulullah saw. (W:40H).

Penegasan beliau bahwa ayat wilayah turun untuk Imam Ali as. telah diriwayatkan oleh banyak ulama dan tokoh kenamaan di antaranya:

a. Al-Thabarani (W:360H) dalam Mu’jam al-Ausathnya, sebagaimana disebutkan oleh al-Suyuthi dalam al-Durr al-Mantsurnya: 3/106.

b. Al-Hafidz Ibnu Murdawaih {w. 416 H} dalam kitabnya al-Fadlail (al-Durr al-Mantsur: 3/106).

c. Al-Hafidz Abu Nu’aim (W:403H) dalam kitabnya Ma Nazala Min Al-qur’anFi Ali as. (al-Durr,3/106).

d. Al-Muttaqi al-Hindi dalam Kanzul Ummalnya juz 7 hal 305.

e. Al-Suyuthi (W:911H) dalam kitabnya al-Dur al-Mantsur menukil dari al-Thabarani, Ibnu Murdawaih dan Abu Nu’aim.

4. Ammar bin Yasir (W:37H).

AthThabarani dan Ibnu Murdawaih meriwayatkan dari Ammar ia berkata, “Ada seorang pengemis berdiri di dekat Ali ketika beliau sedang ruku’ dan shalat sunnah, lalu beliau mencopot (mencabut) cincinnya dan memberikannya kepada pengemis itu, maka datanglah Rasulullah saw. dan beliau diberitahu kejadian tersebut, lalu turunlah atas Nabi saw. ayat tersebut dan beliau membacakannya kepada para sahabatnya, kemudian bersabda (menjelaskan maksud ayat tersebut): Barang siapa yang aku sebagai pemimpinnya maka Ali adalah pemimpinnya. Ya Allah bimbinglah orang yang menjadikan Ali pemimpinnya dan musuhilah orang yang menentangnya.

Hadis pernyataan Ammar di atas diriwayatkan oleh banyak ulama besar, di antaranya:

A. Al-Hafidz Al-Thabarani dalam Mu’jam al-Autsathnya, sebagaimana diceritakan oleh al-Hafidz al-Haitsami dalam Majma’ Zawaidnya 7/17 dan al-Suyuthi dalam Al Durr al Mantsurnya: 3/105.

B. Al-Hafidz Abu Bakar Ibnu Mardawaih (Al Durr: 3/105).

C. Al-Hafidz al-Hakim al-Hiskami dalam Syawahid Tanzilnya juz 1/173.

D. Al-Muhaddits al-Hamwaini (W:733H) dalam Faraid al-Simthain: 1/194.

E. Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqallani.

5. Imam Ali as (syahid:40H).

Al-Suyuthi meriwayatkan bahwa Imam Ali as berkata, “Ayat tersebut turun kepada Rasulullah saw. di rumahnya, lalu beliau keluar menuju masjid, ketika beliau sampai, orang-orang dalam sedang shalat, ada yang ruku’, sujud dan berdiri shalat, lalu ada seorang pengemis, dan beliaupun menanyainya, ” Hai pengemis adakah orang yang memberimu sesuatu?”. Ia menjawab, ” Tidak, kecuali orang yang sedang ruku’ itu –sambil menunjuk kepada Ali bin Abi Thalib-, ia memberiku cincinnya.

Riwayat pernyataan beliau bahwa ayat wilayah tersebut turun untuknya, telah diriwayatkan oleh banyak kalangan baik Syi’ah maupun Sunnah, di antaranya:

A. Al-Hafidz Abu Syeikh (W:369H) dalam tafsirnya.

B. Al-Hafidz Ibnu Murdawaih, keduanya dinukil oleh al-Suyuthi dalam Durr Mantsurnya: 3/105.

C. Al-Hakim Ibnu al-Bayya’ al-Nisaburi (W:405H) dalam kitabnya Ma’rifah Ulum al-Hadits:102.

D. Al-Faqih Ibnu al-Maghazili al-Syafi’i (W:483H) dalam kitab Manaqibnya:312, hadis ke 355.

E. Al-Hafidz al-Hakim al-Hiskani dalam Syawahidnya: 1/175.

F. Al-Hafidz al-Khawarizuni al-Hanafi (W:568H).

G. Al-Hafidz Ibnu ‘Asakir al-Dimasyqi (W:571H) dalam Tarikh Dimasqa:2/409.

H. Al-Hafidz al-Thabaranio (W:360H) dalam Mu’jamnya, seperti disebutkan Ibnu Katsir al-Dimasyqi dalam al-Bidayah wa al-Nihayah nya: 7/357.

I. Al-Hafidz Ibnu Hajar al-’Asqallani dalam kitabnya al-Kaaf al-Syaaf: 56.

J. Al-Hafidz al-Muttaqi al-Hindi dalam Kanzulnya:15/146.

K.Ibnu Furat al-Kuufi dalam tafsirnya:41.

L.Al-Majlisi dalam al-Bihar:35/198 dari Ibnu Furat.

M.Ibnu Babawaih al-Qummi (W:381H) dalam kitab al-Khishalnya, bab 43.

N. Al-Muhaddits al-Thabarsi dalam kitabnya al-Ihtijaj: 1/192 dan 231.

0. ‘Amr bin al-’Ash, dalam surat balasan kepada Mu’awiyah, sebagaimana disebutkan oleh al-Hafidz al-Khawarizmi dalam Manaqibnya hal 128.

P.Abdullah bin Sallam bin Harits (W:43H) riwayat pernyataannya disebutkan oleh banyak ulama di antaranya:

Q.Razin al-Abdari al-Andalusi (W:535H) dalam kitabnya Tajrid al-Shihah,2/227.

R.Muhibbuddin al-Thabari (W:649H) dalam dua kitabnya Dzakhir al-Uqba:102 dan al-Riyadh al-Nadhirah: 2/208.

S.Ibnu al-Atsir {w. 606 H.} dalam kitabnya Jami’ al-Ushul,6/478.

T.Abdullah bin Abbas (W:68 H).

Banyak sekali riwayat dari Ibnu Abbas ra. dengan redaksi yang bermacam-macam yang keseluruhannya menegaskan bahwa ayat al-Wilayah turun untuk Imam Ali as. sebagian darinya dengan menyebutkan kejadiannya dan terkadang langsung menerangkan bahwa ayat itu turun untuk Ali as al-Suyuthi menyebutkan lima riwayat darinya dengan jalur yang berbeda-beda dari pelbagai tokoh hadis terkemuka seperti: al-Khatib, Abdu al-Razzaq, Abdu bin Humaid, Ibnu Jarir al-Thabari, Abu Syaikh dan Ibnu Mardawaih.

Selain nama-nama tokoh penting di atas masih banyak lagi ulama yang meriwayatkannya seperti:

A. Ahmad bin Yahya al-Baladziri (W:279H) dalam kitabnya Ansab al-Asyraf:2/150.

B. Al-Wahidi al-Nisaburi (W:468H) dalam kitab Asbab al-Nuzulnya: 133.

C. Al-Hakim al-Hiskami dalam Syawahidnya:1/164, 180, 181, 184 dan 185.

D. Ibnu al-Maghazili al-Syafi’i dalam Manaqibnya meriwayatkannya dari tiga jalur hadis ke 354, 356 dan 357 hal 311-313.

E. Al-Muwaffaq bin Ahmad al-Hanafi (W:68H) dalam Manaqibnya:186.

F. Al-Fakhr al-Razi (W:606H) dalam tafsirnya:12/28. Ia berkata: “Atha’ meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini turun untuk Ali bin Abi Thalib as.”. Ia juga meriwayatkan dari Abdullah bin Sallam dan Abu Dzar.

G. Syeikhul Islam al-Hamwaini al-Juwaini (W:722H) dalam Faraid al-Simthain:1/193.

H. Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya al-Kaf al-Syaf.

I. Al-Suyuthi dalam tafsirnya al-Durr al-Mantsur seperti sudah disinggung sebelumnya dan juga dalam Lubab al-Nuqul: 93 dan ia juga meriwayatkan dari Ammar bin Yasir.

J. Al-Muttaqi al-Hindi dalam kitab Kanzulnya:6/319.

K. Jabir bin Abdillah al-Anshari (W:78 H)

Hadis darinya telah diriwayatkan oleh banyak ulama, di antaranya:

A. Al-Hafidz al-Hakim al-Hiskani dalam Syawahidnya:1/174.

B. Syeikh As’ad al-Ardabili dalam kitabnya al-Arbain Haditsan.

10. Anas bin Malik (W:93H).

Riwayat pernyataannya dilaporkan oleh sekelompok Muhaddis dalam karya-karya penting mereka seperti:

A. Al-Hafidz al-Hakim al-Hiskani dalam Syawahidnya:1/45 dan 66.

B. Al-Hafidz al-Kinji al-Syafi’i (W:658H) dalam kitabnya Kifayat al-Thalib: 228.

C. Al-Hamwaini al-Jumaini dalam Faraid as Simthain:1/187.

Ibnu Taymiah Menantang, Kami Meladeni!!

Ibnu Taymiah membohongkan hadis sebab turunnya ayat di atas dari beberapa sisi, katanya, di antaranya ialah: “(Keempat) Kami maafkan dia dari mendatangkan bukti ijma, tetapi kami hanya menuntutnya untuk mendatangkan dengan penukilan melalui satu sanad saja yang sahih. Sanad yang disebutkan ats Tsa’labi di dalamnya terdapat banyak perawi tertuduh, adapun penukilan Ibnu al Maghazili lebih lemah. Orang ini mengumpulkan dalam bukunya banyak hadis palsu. Sebnagaiaman tidak samar bahwa hadis ini adalah palsu bagi yang sedikit memiliki pengetahuan tentang hadis…”[3

Pertama-tama yang perlu dikatakan di sini ialah:

1) Hadis tentang sedekahnya Imam Ali as. di atas telah dijadikan pijakan para ulaa Ahlusunnah dalam menetapkan hukum bahwa gerakan sedikit dalam shalat itu tidak membatalkannya. Dan sedekah sunnah itu juga dinamai zakat! Mereka juga menggolongkan ayat di atas sebagai ayat hukum, Âyâtul Ahkâm, seperti yang dilakukan al Jashshâsh dalam Ahkâm al Qur’an-nya dan beberapa ulama lain. Semua itu bukti bahwa para ulama itu mengakui kesahihan hadis tersebut! Sebab jika tidak mana mungkin mereka menetapkan hukum berdasarkan hadis yang tidak sahih?!

2)Para ahli ilmu Kalam (Teoloqi Islam) ketika mereka membantah argumentasi Syi’ah dengan hadis di atas, hanya mengkritik pemanknaan Syi’ah terhadap kata wilayah tanpa mencacat sanad hadis tersebut. Tidak jarang pula mereka menisbatkannya kepada para mufassir. Hal itu adalah bukti kuat bahwa mereka menerima kesahihannya! Andai tidak, pastilah mereka akan mencacatnya.

3)Para hafidz dan ahli hadis meriwayatkan hadis tersebut dalam buku-buku mereka dan tanpa menyebut-nyebut pencacatan, dan tidak jarang pula yang menegaskan kesahihannya.

Setelah ini semua, coba kita perhatikan beberapa jalur periwayatan hadis tersebut, agar kita dapat menyaksikan langsung kualitas sanadnya.

Yang pasti tidak sedikit sanad hadis ini yang sahih, di antaranya:

Hadis riwayat Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya: Rabî’ ibn Sulaiman al Murâdi menyampaikan hadis kepada kami, ia berkata, Ayub ibn Suwaid menyampaikan hadis kepada kami dari Utbah ibn Abi Hakîm…Dan Abu Sa’id al Asyaj menyampaikan hadis kepada kami, ia berkata al Fadhl ibn Dakîn Abu Nu’aim al Ahwal menyampaikan hadis kepada kami, ia berkata Musa ibn Qais al Hadhrami menyampaikan hadis kepada kami dari Salamah ibn Kuhail.

Nama periwayat dalam kedua sanad di atas adalah orang-orang tsiqât, jujur terpercaya dan para periwayat andalan enam kitab hadis standar Ahlusunnah, Shihâh Sittah.

Hadis riwayat Ibnu ‘Asâkir dalam tarikh Damaskus-nya:

Dari al Haddâd, dari Abu Nu’ain al Isfahâni dari ath Thabarani dari Abdurahman ibn Sallam ar Râzi dari Muhammad ibn Yahya ibn adh Dharîs dari Isa ibn Abdullah…

Nama-nama periwayat ini adalah tsiqât tanpa diragukan lagi!

Ibnu Katsir juga menyebutkan beberapa jalur periwayatan hadis ini, dan ia mencacat sebagian darinya, dan untuk sebagaian lainnya ia diam! Sementara tentang sebuah sadan darinya ia mengatakan:

هذا إسْنادٌ لاَ يُقْدَحُ بِهِ

“Sanad ini tidak dapat dicacat!” [4]

Bahkan lebih dari itu, turunnya ayat tersebut untuk Imam Ali as. telah dikatakan oleh sebagian ulama Ahlusunnah adalah telah diijma’kan. Demikian dikatakan Qadhi Adhuddin al Îji dalam kitab al Mawâqif-nya, Syarif al Jurjani dalam Syarahnya atas kitab tersebut dan at Taftazani dalam Syarah al Maqâshid-nya. [5]

Mungkin gaya “geretak mengeretak” Ibnu Taymiah akan membuatnya tampil hebat dengan anggapan bahwa orang-orang akan yakin bahwa memang benar tidak ada stupun sanad riwayat ini yang sahih… dan benar pulalah klaimnya bahwa para ulama ahli hadis telah bersepakat membohongkannya! Ternyata benar juga dugannya, karena ternyata ada juga yang tertipu dengan kepicikan dan kejahilan Ibnu Taymiah. Tentunya ya kaum Wahabi dan antek-antek mereka; Neo Nawashib!!

Coba Anda bandingkan kebohongan dan kepalsuan yang dilontarkan Ibnu Taymiah beberapa abad silam ternyata ditelah mentah-mentah oleh ulama Wahabi yang bengkit dengan geram membantah kitab Dialoq Sunnah-Syi’ah melalui buku al Bayyinât-nya, ia berkata, “Kami memastikan bahwa hadis-hadis itu tidak ada satupun yang sahih, dan tidak satupun yang dapat tegak dengannya hujjah… Adapun sekedar menyandarkannya kepada tafsir ats Tsa’labi atau Asbâb Nuzûl-nya al Wahidi bukanlah hujjah berdasarkan kesepakatan ahli ilmu, sebab Ahlusunnah tidak menetapkan melalui buku-buku rujukan itu suatau apapun yang hendak mereka tetapkan, apapun ia, karena buku-buku itu menghimpun yang sahih dan dhai’f serta mawdhu’ (palsu). Dan para ahli tafsir tidak bersepakat bahwa ayat itu turun untuk Ali, mereka berselisih.”

Para pengikut Ibnu taymiah seperti penulis al Bayyinât dalam pandangan kami tidak berharga walau hanya satu reyal Saudi-pun, sebab mereka adalah kaum dungu yang jahil yang hanya pandai mengulang-ulang kebodohan dan kedungunag Ibnu Taymiah; imam besar mereka. Jika Anda ragu, pernyataan penulis buku di atas adalah sebaik-baik bukti hidup!! Oleh sebab itu, saya khawatir berdosa kalau meladeni mereka! Tetapi saya hanya ingin katakana bahwa bahwa sanad-sanad hadis di atas adalah sahih. Dan memang benar, buku-buku seperti Asbâb Nuzûl-nya al Wahidi dan tafsir ats Tas’labi tidak sedikit memuat hadis lemah atau bakhan palsu! Kami mengerti itu! Bakhan kami meyakini dengan bukti bahwa kitab-kitab hadis Shahih Ahlusunnah seperti Bukhari-pun banyak memuat hadis palsu!! Tetapi beristidlal dalam kasus ini adalah dengan hadis yang sanadnya telah terbukti sahih!! Baik terdapat dalam buku-buku yang Anda sebut tadi maupun di buku-buku lain!

Dan apakah Anda membaca komentar al Alusi yang mengatakan bahwa turunnya ayat tersebut untuk Ali as. adalah pendapat aghlabul muhaddisîn, kebanyakn/mayoritas ahli hadis![6]

Ibnu Taymiah Unjuk Kebodohan!

Kita masih menyoroti penyataan-pernyataan ngawur yang memalukan yang tidak henti-hentinya digoreskan tinta beracum Ibnu Taymiah seputar ayat al Wilayah. Kali ini ia memamerkan kebodohan dan kejahilannya! Coba perhatikan apa yang saya katakana di bawah ini:

Jalur Riwayat dalam Tafsir ath Thabari

Ibnu Taymiah membanggakan tafsir Ibnu Jarir ath Thabari yang bersih dari hadis-hadis lemah dan palsu, tidak seperti tafsir ats Tsa’labi dan muridnya, al Wahidi yang mencamuradukkan antara riwayat-riwayat sahih dan dha’if dalam tafsir mereka… Ibnu Taymiah berkata: “Adapun para ulama pembesar ahli tafsir seperti tafsir Muhammad ibn Jarir ath Thabari, Qabi’ ibn Mukhallad, Ibnu Abi Hatim, Ibnu al Mundzir, Abdurahman ibn Ibrahim ibn Duhaim dan yang semisal mereka, mereka tidak menyebut dalam buku-buku mereka hadis-hadis palsu, mauwdhû’at seperti itu, apalagi para ulama yang lebih agung dari mereka, seperti dalam tafsir Ahmad ibn Hanbal, Ishaq ibn Rahawaih. Riwayat-riwayat seperti itu tidak disebut oleh Ibnu Humaid, tidak juga Abdurazzaq-padahal ia condong kepada kesyi’ahan dan banyak meriwayatkan hadis keutamaan Ali, walaupun dha’if- akan tetapi ia lebih agung dari meriwayatkan kebohongan nyata seperti riwayat itu!…”[7]

Subhanallah! Sungguh konyol pernyataan Ibnu Taymiah kali ini. Ia memuji Tafsir ath Thabari-yang katanya tidak seperti tafsir ats Tsa’abi dan al Wahidi- bersih dari riwayat-riwayat ngawur, ternyata Ibnu Jarir Thabari meriwayatkan hadis tentang turunnya ayat tersebut terkait dengan sedekah Imam Ali as. dari lima jalur kuat. Saya persilahkan Anda yang penasaran merujuknya langsung pada tafsir ath Thabari![8]

Dan Ibnu Abi Hatim yang ia banggakan juga ternyata meriwayatkan peristiwa itu dengan jalur-jalur yang sahih dari para periwayat yang tsiqah, seperti telah Anda baca sebelumnya.

Sepertinya Ibnu Taymiah Mabuk Ketika Menulis!

Tidak cukup mengigau dengan mengatakan kata-kata seperti di atas, Ibnu Taymiah lebih memberikan bukti baru kepada kita akan kebodohan dan kejahilannya! Atau janga-jangan ia sedang mabuk ketika menggerakan penanya di atas kertas!

Ia mengecam tafsir ats Tsa’labi dan al Wahidi, seperti telah And abaca di atas, ia menambahkan,“Maka dari itu, karena al Baghawi adalah seorang yang alim, pandai tentang hadis dan lebih pandai dari ats Tsa’labi dan al Wahidi, dan tafsir yang ia tulis adalah ringkasan dari tafsir ats Tsa’labi, karena itu ia tidak menyebutkan dalam tafsirnya sedikitpun dari hadis=hadis palsu tersebut yang telah diriwayatkan ats Tsa’labi. Ia (Al Baghawi) tidak menyebutkan tafsir ahjli bid’ah yang disebutkan ats Tsa’labi… “[9]

Sungguh memalukan!! Apakah Ibnu Taymiah tidak pernah mengarahkan matanya ke kitab Tafsir al Baghawi sehingga ia menyaksikan bagaimana al baghawi ternyata meriwayatkan hadis peristiwa itu?!! Ya. Riwayat itu telah diriwayatkan oleh al Baghawi yang kata Ibnu Taymiah menyebut-nyebut mawdhû’at, dan tafsirnya ahli bid’ah!

Apakah Ibnu Taymiah siap mencabut ucapannya? Atau para pemujanya tetap saja akan menyanyikan lagu sumbang kebodohan dan kejahilan Ibnu Taymiah mereka?!

Tetapi jangan Anda tidak perlu khawatir, Ibnu Jarir dan al Baghawi yang ia puji sebentar lagi akan dihajar habis Ibnu Taymiah ketika ia dihadapka dengan kenyataan bahwa ternyata keduanya juga meriwayatkan hadis-hadis yang tidak sejalan dengan hawa nafsunya! Nantikan serinya!

______________________________

[1] Minhâj al-Sunnah 1/155.

[2] Minhâj as Sunnah,4/4.

[3] Minhâj as Sunnah,4/4-5.

[4] Tafsir Ibnu Katsir,2/64.

[5]Al Mawâqif fi Ilmi al Kalâm:404, Syarhu al Mawâqif fi Ilmi al Kalâm,8360 dan Syarhu al Maqâshid fi Ilmi al Kalâm,5/270.

[6] Rûh al Ma’âni,6/167.

[7] Minhâj as Suinnah,4-4.

[8] Tafsir ath Thabari,6/186.

[9] Minhâj as Suinnah,4-4.


42 Komentar

  1. Hanichi Kudou mengatakan:

    [Maaf, numpang nempel pamflet yah.. ]

    ************
    -Jawaban Kami-

    Minta ma’af yang banyak mas pamflet-nya nggak bisa kami muat!

  2. abah mengatakan:

    Tambah seru nih…. di tungguin lanjutannya…

    Salam
    Abah

    ***********************
    -Jawaban Kami-

    Salam abah. sabar atuuh. Biar kaum Wahabi penyembah Ibnu taymiah tarik napas dulu dan berembuk membantah!
    Sabar ya, satu dua hari lagi akan ada yang lebih seru membongkar KEGILAAN Ibnu Taymiah.

    • si'i rumi imamiyah mengatakan:

      “Salam abah. sabar atuuh. Biar kaum Wahabi penyembah Ibnu taymiah tarik napas dulu dan berembuk membantah!
      Sabar ya, satu dua hari lagi akan ada yang lebih seru membongkar KEGILAAN Ibnu Taymiah.”—–(gaya bahasa orang awam yg suka sekali perdebatan)

      si admin ini orang awam. ustad bukan, da’i bukan, ulama bukan. Kaum wahabi penyembah ibnu taymiah. saya yg bukan kaum wahabi yg sedang belajar namun tahu sedikit tentang beliau dia ulama ahlusunnah bukan ulama syiah, ulama syiah imamiah( imam 12 yg dikatakan maksum tidak pernah salah) penyembah taymiah! kasih reply ke orang jawab seperti itu. si admin bila bicara dalam blog menjelek2an ulama. Taymiah itu manusia biasa, tak satupun dia disembah, dan tak patut disembah. Saya tdk pernah lihat mereka menyembah taymiah. anda berdusta. Klu syiah rafidhoh iya mereka penyembah manusia siapakah? sahabat rasulullah.. Ali bin Abi Thalib Rodhiallahu’anhu. Sepakat ulama tidak ada sahabat itu Tuhan, dan mereka tidak maksum. Rasulullah yg maksum. syi’ah aqidahnya persis nasrani manusia dijadikan tuhan.—>tdk ada perbedaaan syiah rafidhoh dgn nasrani.

  3. wedulgembez mengatakan:

    wheleh–wheleh bodohnya kaum muslim, kok lebih mengutamakan Hadits dari Al-Qur an. Semua sudah Jelas dalam Al-quran tentang Muhammad, kenapa kalau ada hadits2 yang beginian, mereka lebih percaya….samber gelap, Bodoh-bodoh….Hidup Muhammad Hidup Islam

    ********************
    -Jawaban Kami-

    Mas wedul. Salam.
    kamu itu gimana sih, kok tidak terarah dengan baik bicaranya! Kamu perlu perbaiki logika kamu! Siapa yang mengutamakan Hadis di atas Qur’an? Yang ada adalah menafsirkan dan mencari keterangan tentang ayat-ayat Al-Qur’an dengan merujuk kepada hadis! apa itu salah mas?

    Sumbernya juga jelas, dikutip dari buku-buku para ulama dengan sanad yang kuat. apanya yang gelap. Bodoh-bodoh…. Hidup Muhammad! hidup Islam. Ya tapi islam dengan pemahaman siapa, mas? itu yang perlu dikaji!

  4. behesti mengatakan:

    lama2 makin asyik neh gasak Ibn Taimiah …

    *******************
    -Jawaban Kami-

    Mas bahesti, assalamualaikum.
    Ini bukan gasak-gasakan, tetapi kajian ilmiah, walaupun kajiannya memilih Ibnu Taymiah sebagai studi kasusnya. Sebab sementara ini banyak yang belum kenal siapa sebenarnya orang itu.

    • ihsan mengatakan:

      Ini memang gayanya org syi’ah sesat bin laknat yg hobinya mencela Ibnu Taimiyah seorang ulama yg bicara berdasar kebenaran. Bukan sebaliknya org syi’ah yg bodoh dan sesat membuat kebohongan atas nama ‘Ali bin Abi Thalib yg dikatakan berzakat sdg menunaikan shalat . Berarti tidak khusyuk dong shalatnya,sdgkan Ali terkenal khusyuk ketika shalat,bahkan pernah ada anak panah yg menancap dikaki nya dicabut ketika beliau sdg shalat,agar tidak merasa sakit. Jadi be nar jika syi’ah ini suatu ajaran yg berisi KEBOHONGAN/Kepalsuan.

  5. wedulgembez mengatakan:

    ya kalo Hadits gak sesuai Al-Quran tinggalin aja. ya Islam dengan pemahaman yang sesuai Al-Quran

    *****************
    -Jawaban Kami-

    Benar mas!! seratus sampean! Kalau ada hadis tidak sesuai dengan Al-Qur’an buang aja jauh-jauh. Tetapi tahap awal pahami dulu dengan benar Al-Qur’annya baru bicara apakah hadis ini atau itu cocok atau bertentangan!

    Jadi kalau ada yang ngotot mau membantah hadis di atas, ya buktikan dulu apakah ia bertetnatnag dengan Al-Qura’n? Di mana letak pertentangannya? Apa alasan semua itu?

    Setuju?! Saya tunggu pembuktian kamu ya!!

  6. Syaiful battar mengatakan:

    ass, MAS, SAYA GAK BISA BAHASA ARAB, TAPI PINGING SEKALI PUNYA BUKU KARANGAN IBNU TAYMIAH, Minhajus Sunnah NYA bahasa indonesia. PUNYA INFO? harga? dimana? MAKASIH.

    http://shahihbukhari.wordpress.com —kajiannya bagus sekali.

    *******************
    Jawaban kami:

    Salam Mas Syaiful.
    maaf sampai sakarang saya belum punya info tentang di mana dapetin buku itu. Tapi katanya sih sudah diterjemahkan.
    Terima kasih atas dukungannya. Jangan bosan-bosan kunjungi blog ini pasti selalu diperbaharui… pasti banyak info baru tentang kekonyolan imamnya kaum Wahabi/Salafy Takfiriyyi!

    Wassalam

  7. jangkrik mengatakan:

    Ya anak Taimiah, kalau setiap ayat yang diturunkan untuk keutamaan Sayyidina Ali -karramallahu wajhahu- kamu ingkari, turs maumu itu apa?
    Kamanya saya tidak heran kalau sekarang orang2 Wahabi dan simpatisan bani umayyeh selalu mengikuti langkah2nya ibnu taimiah!!
    Saya sering ketemu orang2 yang punya kecenderungan ke- wahabi2an selalu ngotot menolak banyak keutamaan Sayyidina Ali ra. dengan satu alasan: itu terlalu mengkultus Ali.
    Sangat keterlalulan semua itu….wahai kaum muslimin waspadalah terhadap kesesatan mereka.

    ************************
    Jawaban Kami:

    Salam mas jangkirk.
    Memang sikap mereka itu aneh… selalunya begitu… bukan cuma kamu, kami juga sering ketemu dengan simpatisan bani umayyah yang ruwet, mbulet dan ndak jelas arah logikanya… Setiap kali dibawakan keutamaan Imam Ali as. mereka bilang itu pengkultusan! Kalau keutamaan bani umayyah? Apa itu bukan pengkultusan?

  8. Antiibnutay mengatakan:

    Memang keterlaluan ibnu tay itu… sepertinya ia sangat menaruh dendam kepada Islam dengan memuntahkannya kepada keluarga dekat nabi kita saw.
    Apa dia tidak tau kalau hadis-hadis keutamaan sahabat Ali ra. yang ia dustakan itu diriwayatkan ulama islam yang tentunya jauh lebih berkopenten dalam masalah-masalah islam.
    Saya doakan mas pengelolah blog ini agar terus maju pantang mundur menggempur kesesatan anak tay… titisan arwah jahat umawiyin.

    ****************
    -Jawaban Kami-

    Salam mas. semoga Allah selalu melindungi kita semua. Anda tidak salah ketika curiga Ibnu Taymiah itu seperti yang kamu katakan… sebelum kamu juga para ulama telah curiga bahkan ada yang menuduhnya begitu.
    Ayo mas kerja juga menggempur kesesatan mereka…

  9. kaka mengatakan:

    wahai pengikut muhammad & ali muhammad saww
    berjuanglah satu padu dalam membongkar ajaran nashibi itu (shali ala muhammad wa ali muhammad wa ajjul farajahum).

    dan teruslah kalian memberitahukan tentang keistimewaan yang telah Allah berikan kepada maksumin as,sampai shahibazaman (af)menebas leher orang munafik ,insya Allah

    ya husain………..

  10. Murthadha mengatakan:

    Salam,,, Ibnu Taymiah yang pertama mengharamkan penggunaan akal setelah Al-Ghazali makanya ia tak berfikir seperti kerbau>>>>>

    • imam musthafa mengatakan:

      astaghfirullah…. banyak dari kita yang gak sadar kalau apa2 yg kita lakukan selama ini adalah sesuatu tg bid’ah.. kenapa kita sibuk menghujjah orang lain, marilah kita lihat diri kita masing2… dan cari tau bid’ah itu apa?

    • muhamad bin ali mengatakan:

      ibnu taymiyah itu tak doain msk neraka biar dpt siksa yg amt pedih

      buat org yg suka suka menyamakan imam ali dg si abtar smoga otaknya jd jernih .imam ali adlh pntu keselamatan dan ilmu 2 nys adlh utama

  11. ahlul bayth mengatakan:

    assalamu alaikum wr.wb.
    allahumma salli ala muhammad wa ala alhi muhammad.
    marilah kita bersatu dalam ketahuhidan…. al-quran mutlak adanya penafsirannya relatif… kasihan umat yang menjadi bingung q.s al-anbiya'(21):92 al-an’am(6):159 ali imran(3): 103. berbeda dalam penafsiran fiqh dan lainya adalah biasa bagimanusia yang mempunyai akal untuk berfikir tapi smua mencari keridhoan allah s.w.t BERSATULAH>>>>>

    *********************
    -Jawaban Kami-

    Memutar balikkan penafsiran ayat Alqur’an harus ditentang keras, dan ditelanjangi pelakunya sebab dapat merusak kemurnian ajaran Islam. marilah kita bersatu dalam kebenaran bukan dalam kebatilan.

  12. Ungki mengatakan:

    Dari jaman ke jaman, mulai dari jaman nabi, para sahabat, sampai kiamatpun akan selalu ada para ahli bid’ah. Apakah itu bid’ah dalam Al Quran maupun Sunah. Dan menurut saya, Inbu Taymiah adalah salah satu dari ahli bid’ah. Sudah sangat jelas keutamaan dan kemuliaan Ali bin Abu Thalib yang tak seorangpun meragukannya baik itu dari pihak kawan maupun lawan. Banyak hadis tentang beliau dan banyak pula para perawi hadis yang mengakui nya sahih. Jadi hati-hati terhadap bid’ah!!

  13. aidil mengatakan:

    katanya ibn taymiyah salafi tulen,………
    malah menutupi keutamaan salafi, ahlulbait lagi.
    tapi bagaiamana kalo kepalsuan haditsnya hasil ijtihad ibn taimy, bukankah dia ahli hadits?

    Salamun Alaikum

    Para ulama Ahlusunnah, seperti Ibnu Hajar al Asqallani mengatakan bahwa Ibnu Taymiah sering gegabah dalam menolak hadis khususunya tentang keutamaan Imam Ali ra… Tentunya dengan dorongan hawa nafsu….
    Sepertinya Ibnu Taymiah dianggap ahli dalam banyak hal, boleh jadi Anda setuju boleh jadi orang lain menolak. Tetapi yang pasti dia adalah Ahli Bid’ah dan Ahli Dusta serta Ahli Dalam Memproduk Ijma’ Palsu.

  14. firman mengatakan:

    Wah….
    Kayaknya Ibnu Taymiyah mesti tobat tuh…

    Udah jelas2 nas untuk Imam Ali dan ahlulbait sangat konkrit dalam al-Quran & Hadist, eh malah bikin perkara…

    Apa yg ditolak dalam diri Imam Al-Mutaqin Ali ibnu Abi Thalib as?????

    Ada juga yang sering bohong Abu Bakar & Umar, sampai putri Rasulullah wafat dalam keadaan murka sama mereka… pintu Ridhallah dilawan, ya… siap2 aja.

    Yasud, mudah2an ga di azab sama Allah di dunia dan di akhirat….

  15. Zaka mengatakan:

    ….sejauh yang saya tangkap ibnu taimiyyah hanya tak adil jika menyangkut tentang ahlul bayt saja, tapi di dalam hal-hal lainnya (katanya) bisa diambil pendapatnya (hujjahnya), betul tidak itu?

    • masduki mengatakan:

      @ZAKA

      sejauh yang saya tangkap ibnu taimiyyah hanya tak adil jika menyangkut tentang ahlul bayt saja, tapi di dalam hal-hal lainnya (katanya) bisa diambil pendapatnya (hujjahnya), betul tidak itu?

      mas pembohong tak dapat dipercaya lagi omongannya, ini masalah agama mas.jangan kuti orang yang tidak amanah. apalagi membenci salah satu angota ahlulbait (Ali bin Abi tholib) itu munafiq namanya sesuai hadis nabi yang mengatakan pembenci ali ra. adalah munafiq

  16. aku mengatakan:

    pak tanya saya penah liat pa bener umar ma abu bakar ntar berada di jahannam?truzz abu lu’lu’ itu muslim tah
    ?

    Kami Menjawab:

    Kamu pernah lihat di mana? Di Jahannam sana? Kamu kan belum masuk ke sana, sayang???
    Lebih baik di buktikan aja di akhirat seperti kata kamu? Gimana? setuju?

  17. Muhammad AlBaqir mengatakan:

    Alhamdulillah , allohumma shalli ala Rasulillaha wa ala alihi, komentar2 disini sangat memalukan, sama-sama suka menghina Imam Taqiyuddin Ibnu Taimiyah rahmatullah alaih, saya meminta kepada penulis blog ini untuk mendatangkan ayat-ayat lain dari Kitabullah yang menunjukkan Wilayah AmirulMu’minin aihisSalam, mengapa aqidah sebesar ini hanya memiliki satu ayat didalam alqur’an dan urusan sepenting ini ( Imamah ) hanya meimiliki satu dalil didalam AlQur’an? Saya tidak meminta anda menukil dari hadits karena anda pasti kan menukil Hadits AlGhadir, bukankah Imam adalah alHaidar? mengapa ia tidak melawan Abu Bakar Alaihi Salam tatakala beliau dibaiat? bukankah disisinya ada ibu kita AzZahra alaiha salam?bukankah beliau menantu alMushtafa? , mustahil ribuan sahabat saat itu menolak membaiat Imam, padahal mereka adalah orang2 yang paling ikhlas dari ummat ini, kedustaan kalian wahai para pengaku pecinta Alawiyyin lebih saya percayai ketimbang penolakan sahabat Nabi terhadap ayat ini…, mari kita dukung AmirulMu’minin tanpa harus menghujat yang lainnya…

    _______________
    Kami menjawab:

    Akhi Mutharam
    mungkin akan terlihat jujur jika anda mau berterus terang tentang penyimpangan dan kepalsuan Klain Ibnu Tay di atas. Selebeihnya, saya sarankan agar anda tidak gegabah menampakkan mengkufuri (baca: mengingkari) kebenaran dengan hanya menabur pertanyaan yang mencerminkan kurang dalamnya kajian.
    Jadi tanggapi dulu artikel kami…. Jangan melantur kesana kesini.
    Ok!?

  18. masduki mengatakan:

    DIMANA-MANA SAYA LIHAT DISKUSI SALAFY/WAHABI SELALU KEUAR DARI TOPIK !!

    KASIAHAN MEREKA, IMAM NYA DI BUKA KEDOK KEBOHONGANNYA PENGIKUTNYA TAK DAPAT MEMBELA !!

  19. Muhammad AlBaqir mengatakan:

    Demikian anda wahai ayatullah ( jika anda seorang mullah ) terhormat…….Dengan menulis blog ini antum telah merasa membongkar kedok seorang Imam besar Salafiyyah, saya tak ambil pusing lagi atas apa yang kalian tulis dan kalian ucapkan – semoga Alloh mengampuni saya dan antum – karena jangankan Ibnu Taimiyah , dua mertua Rasul , dua imam Huda Alaihimassalam sendiri kalian cela dan hina hanya demi Imam besar kita AmirulMu’minin Alaihissalam, saya pernah membaca kitab karangan Imam ini “TuhfatulIraqiyyah fi a’mal qalbiyah” , beliau membawakan poin dengan mencintai AhlulBait berarti akan memurnikan hati, sungguh saya sempat meneteskan air mata tatkala ia menyebutkan hadits bahwa barangsiapa membenci Imam ‘Ali Alaihissalam tiada lain adalah orang munafiq…. kita sendiri dalam tiap malam jum’at membaca doa Kumail Ibn Ziyad yang salah satu baitnya menukil ayat surat assajdah ; “Apakah orang mu’min dan fasik itu sama? mereka tidaklah sama”
    Antum wahai ayatullah….dan akhi masduki….., saya melihat bukannya para pengikut wahabi tidak mau membela imamnya, telah banyak buku dikarang demimembela imam ini,saya mencoba menggali banyak informasi mengenai imam ini, membuka Maj’mu’ Fata-nya, membaca langsung kitab Minhaj-nya, dan menelaah beberapa karya murid-muridnya….,sungguh hati saya tiba2 terkenang ungkapan Imam Baqir Alaihisalam;
    “Jika hujan petir turun ke bumi segalanya pasti binasa, kecuali para fuqaha’..”
    Demi Rabb yang akan menampakkan Imam HujjahNya, saya benar-benar menjuluki Ibnu taimiyah sebagai “AYATULLAH AL-‘UDZMA”

  20. adi mengatakan:

    ibnu TAI??? huuueeeekkk siapa yang mau??

  21. Putri Malu mengatakan:

    Untuk Muhammad albaqir :

    saya juga sedang belajar membaca-baca sejarah agama ini …
    dan ada pertanyaa saya kepada anda semoga jawaban anda dapat memuaskan saya :

    1. Menurut saya dunia ini tegak karena masih ada orang yang masih dengan ikhlas untuk bertauhid dan beragama, artinya bahaw saya beranggapan dengan bahwa agama adalah masalah sangat besar dan tinggi. saya berkeyakinan jIka utusan Allah berpulang kehadiratNya pasti ada orang yang ditunjuk untuk dapat meneruskan sebagai washinya..demikian juga halnya dengan nabi-nabi terdahulu (Musa..Isa..)
    Siapakah washi dari Baginda Nabi Saww ini …? apakah beliau tidak menunjuk seseorang untuk dapat meruuknya …?

    2. Untuk mertua beliau (Nabi Saww) dan para sahabatnya , dengan keadaan demikian saya rasa tidak mengurang kemuliaan beliau, kita saksikan bahwa :
    1. anak Isteri Nabi Nuh ..dia juga tidak taat, apakah kemuliaan nabi Nuh mengalami kebangkutan …?
    2. Isteri nabi Luth juga tidak taat kepada kepada beliau, apakah kita beranggapan bahwa baliau (nabi Luth) mengalami kegagalan …?
    3. Anak-anak dari Nabi Yaqub yang telah berusaha membinasakan Nabi Yusuf … apakah kita akan katakan bahwa Nabi Yaqub gagal…?

    Demikian sebagai suatu bahan perenungan dari saya ..
    salam

  22. Putri Malu mengatakan:

    Muhammad AlBaqir,

    Ini tulisan/statement anda dalam kutipan diatas :
    “saya meminta kepada penulis blog ini untuk mendatangkan ayat-ayat lain dari Kitabullah yang menunjukkan Wilayah AmirulMu’minin aihisSalam, mengapa aqidah sebesar ini hanya memiliki satu ayat didalam alqur’an dan urusan sepenting ini ( Imamah ) hanya meimiliki satu dalil didalam AlQur’an? ”

    Pertanyaan dari saya :
    apakah perkara Imamah (aqidah yang besar : menurut tulisan anda..) tidak ada referensi/dalil baik dari Al-quran dan hadist…? ….mohon penjelasannya..

    Apakah Allah dan rasul meletakan perkara Imamah (aqidah yang besar : menurut tulisan anda..) ini dalam suatu majelis syura …? tanpa bimbingan yang berpotensial terjadikan kecauan ..?

    adakah perkara imamah didalam Al-quran dan hadist diberikan kepada Abu Bakar …?

    Mohon penjelasannya..

  23. Muhammad AlBaqir mengatakan:

    Alhamdulillah, allohumma shalli ala Muhammad awa ala aali Muhammad, Ya Ukhti..
    1. Anda memang benar bahwa bumi ini dijaga oleh Alloh jalla wa ala lantaran keberadaan para wali yang dikasihiNya, bukankah dalam banyak wasiatnya Nabi menunjuk alKitab dan AsSunnah sebagai rujukan setelahnya, sebagaimana Imam Husein Alaihi Salam keluar demi memberantas penyimpangan atas dua pusaka ini dengan korban beliau sendiri sehingga namanya tetap harum sepanjang masa, jika Nabi memang menunjuk Washi yang anti ambil dari Hadits alGhadir, berarti agama ini belum lengkap karena masih butuh washi yang memegang AshShahifah dan alJaami’ah ditangannya, ketahuilah ukhti, Nabi menyerukan Imam ‘Ali pada hari alghadir adalah sebagai wasiat bahwa ummat harus berwala’ kepadanya, karena sepeninggal beliau kelak, Imam akan mengalami berbagai ujian dan cobaan dan ummat tidak boleh meninggalkan beliau pada saat ujian dan cobaan itu terjadi….
    2. Anak Nabi Nuh Alaihi Salam memang kafir…istri Nabi Ya’kub Alaihi Salam juga kafir…dan mereka contoh buruk bagi ummat ini, namun saudara2 Yusuf Alaihi Salam, bukankah Nabi Yusuf sendiri telah mengampuni mereka dan merekapun diampuni oleh Alloh sehingga tidak ada seorangpun setelahnya yang mencaci maki mereka, demikian pula dua imam huda alaihima salam ;
    “Jika sekirannya aku dibolehkan mengambil kekasih selain Alloh, niscaya aku kan mengambil Abu Bakar sebagai kekasih, namun dia adalah saudaraku dan sahabatku…”
    “Sesungguhnya di antara orang-orang sebelum kalian terdapat sejumlah manusia yang mendapatakan ilham. Apabila salah seorang ummatku mendapatkannya maka Umarlah orangnya..”
    Hadits pertama silahkan lihat dalam shahih Bukhari, sedangkan yang kedua dalam Musnad Abi Hurairah dalam kitab Musnad Ahmad……

  24. imawan mengatakan:

    wah ini2 yang begini lah yang akan menjadikan allah murka kita sesama muslim saling bercerai berai dan menganggap kita lah yang paling puinter dan paling benerrrrrr astaghfirullah ayoooo temen2 pada ikutan ngaji tasawuf biar kita tau sebener nya selama ini kita terjebak dalam kedangkalan ilmu kita ,,,,ya untuk kajian ilmiah nya saya setuju dengan artikel diatas tapi untuk hujat menghujat nya itu tetep tidak bisa dibenarkan ,,,,,,,,,………………insya allahhhhhhhhhh

  25. acmd mengatakan:

    Salam,

    Asyhadu An Laa Ilaaha Ilallah Wa Asyhadu Anna Muhammadarrasuulullah, Allahumma Shalli alaa Muhammad wa aali Muhammad,…

    Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah,
    Ya Allah limpahkan Rahmat kepada Nabi Muhammad dan Keluarga Muhammad,…

    Dengan kata lain dalam kalimat diatas ada kesaksian/pengakuan terhadap Allah dan Nabi Muhammad sebagai Rasul/Utusan/Washi/Wali Allah,
    dan selanjutnya adalah shalawat/doa Beliau agar Beliau dan Keluarganya yang hak / Ahlubait Rasul Allah agar diberikan Rahmat dan Berkah oleh Allah.
    Dan sudah pasti Allah mengabulkan doa Nabi yang di Kasihi dan di SayangiNya dengan adanya ayat ” Bershalawatlah kamu karena sesungguhnya Allah dan para MalaikatNya Bershalawat”
    Maka dengan kata lain berarti orang orang yang diberi Rahmat & Berkah Allah adalah sama dengan orang-orang yang diberi Nikmat oleh Allah. Berarti sudah jelas bahwa Nabi Muhammad SAW dan Ahlubait Rasul Allah (Ali, Fatimah, Hasan, Husain) adalah Orang – Orang yang di beri Nikmat oleh Allah dalam surat Al Fatihah.

    itulah salah satu kalimat yang terdapat dalam atahiyat, bacaan sholat yang selalu kita baca tanpa terputus antara shahadat dan shalawat, inilah tali siraturahmi sesungguhnya yang Allah ingin selalu disambungkan.(Sambungkanlah apa-apa yang Allah ingin disambungkan)

    Tetapi diluar sholat banyak orang yang memutusnya, merusaknya atau melebih-lebihkannya. Orang yang memutus yaitu ketika sholat mereka mengakui keberadaan akan Allah, Nabi Muhammad dan KeluargaNya tapi diluar sholat mereka hanya mengakui keberadaan akan Allah saja, Nabi Muhammad dan keluargaNya dianggap sudah tiada.Atau meraka hanya mengakui keberadaan akan Allah dan Nabi Muhammad saja, Keluarga/Ahlubait Nabi Muhammad tidak diakui. (“Bersalamlah kamu kepadaku, maka akan aku jawab salammu dimanapun kamu berada”)
    Orang yang merusak / melebih-lebihkannya yaitu diluar sholat mereka mengakuai keberadaan Allah, Nabi Muhammad dan Keluarga Muhammad tetapi merekapun mengakui/ menambahkan/mencampur dengan orang-orang yang tidak hak/bathil(“celakalah orang-orang yang membuat kerusakan dimuka bumi”)

    Telah datang ilmu pengetahuan/Nabi&Rasul Allah kepada mu maka;
    “Nikmat / Ahlubait Rasul Allah manalagi yang akan kalian dustakan”

    Hanya berbagi untuk kalian yang ingin merenungkannya…

    Salam Ya Muhammad SAW, Salam Ya Ahlubait Rasul Allah, Salam wahai para Malaikat Allah, Salam wahai para Mukminin, Sholihin, Mukhlisin,Shadikin dan para Shuhada terdahulu,sekarang dan yang akan datang…

  26. Putri Malu mengatakan:

    Untuk Muhammad Al-baqir :

    Terimakasih atas sentuhannya yang baik (lama tidak “berkunjung” kesini…3 bulan sudah).
    dari tanggapan anda mengenai hadist diatas

    mengenai Abu Bakar ra

    “Jika sekirannya aku dibolehkan mengambil kekasih selain Alloh, niscaya aku kan mengambil Abu Bakar sebagai kekasih, namun dia adalah saudaraku dan sahabatku…”

    tanya :
    bagaimana perseteruan dengan putri tercinta Rasulullah. hingga beliau (Fatimah binti Rosulullah) tidak berbicara kepada hingga akhir hayatnya..?

    Demikian juga :
    Dalam Sohih Bukhari juga diriwayatkan bahwa ada segolongan “sahabat” yang bakal masuk neraka ketika berjumpa Nabi Muhammad SAWA di al-Haudh. Nabi SAWA memanggil mereka dengan istilah ‘ashabi’ [sahabatku]. Sila rujuk Sahih Bukhari[Sahih Al-Bukhari, Jilid 4, hlm.94-96];Sahih Muslim, Jilid IV, hadith 2133,2440.]

    mengenai umar ra:

    “Sesungguhnya di antara orang-orang sebelum kalian terdapat sejumlah manusia yang mendapatakan ilham. Apabila salah seorang ummatku mendapatkannya maka Umarlah orangnya..”

    dibawah ada riwayat yang dicatat oleh Bukhari. mudah-mudahan akhie dapat menjelaskan
    BUKHARI:
    Volume 9, Book 92, Number 451:
    Narrated ‘Ubai bin ‘Umar:

    Abu Musa asked permission to enter upon ‘Umar, but seeing that he was busy, he went away. ‘Umar then said, “Didn’t I hear the voice of ‘Abdullah bin Qais? Allow him to come in.” He was called in and ‘Umar said to him, “What made you do what you did.” He replied, “We have been instructed thus by the Prophet” ‘Umar said, “Bring proof (witness) for this, other wise I will do so-and-so to you.” Then ‘Abdullah bin Qais went to a gathering of the Ansar who then said, “None but the youngest of us will give the witness for it.” So Abu Said Al-Khudri got up and said, “We used to be instructed thus (by the Prophet).” ‘Umar said, “This tradition of the Prophet remained hidden from me. Business in the market kept me busy.”

    Demikian juga :

    Bukhori telah meriwayatkan dalam sahihnya dari Ibnu Abbas. Ia berkata:

    Ketika Rasulullah hampir wafat sedangkan di rumah beliau terdapat
    beberapa orang termasuk Umar bin Khattab, beliau bersuara: “Mari
    kutuliskan untuk kalian sebuah pusaka (yang jika kalian mengikutinya),
    maka kalian tidak akan tersesat untuk selama-lamanya”.

    Tiba-tiba Umar berseloroh:
    “Penyakit Nabi itu sudah terlalu parah sehingga beliau mengigau, apa
    perlunya tulisan itu sedangkan Al Quran ada di sisi kalian. Sudahlah,
    Al Quran itu sendiri cukup sebagal pedoman bagi kita”.
    Umar nampaknya tidak perlu lagi dengan Sunnah Nabinya.

    mohon tanggapannya.

  27. musleh mengatakan:

    tanggapan untuk m.baqir tentang abu bkr didlm hadits bkhry:
    klau mslh hadits tentang abu bkr itu memang shahih menurut
    anda nmn untk menshahihkan hrs dibuktikan bkn dr sanad
    dan matan hadits saja tapi jg dari fakta sjrh yg kt sepakati ber sama.klo memang benar mengatakan demikian,mengapa ktk nabi mengutus abu bkr dan umar sebagai komandan pasukan diperang khaibar dan kedua2nya gagal menerobos benteng khaibar dan plng dg kegagalan lantas nabi mengatkan'”sesungguhnya aku bsk pagi akan memberikan panji ini pd seseorang yg orng tersebut mencintai Allah dan rosulnya dan Allah dan rosulnya mencintainya”.esok harinya para sahabat nabi mengelilingi nabi dg hrpn mngkn salah satu dari mrk bs msk dlm sabda nabi tersebut nmn,ternyata nabi memanggil imam ali as.dan memberikan panji tersebut kpdnya.nah mngp hadits yg dibukhari kok tdk sesuai dg fakta sejarah?walisanul hal aqwa min lisanil maqal?
    mhn dijawab..!

  28. Muhammad Yusuf mengatakan:

    Bersatulah Wahai Cucu Rosul

    Kata Yusuf Qaradhawi , “Jika mereka ini dianggap sebagai teroris, maka sayalah pertama sebagai teroris dan sayalah orang yang pertama yang akan berdoa: Ya Allah, seandainya inilah yang dikatakan sebagai teroris, maka hidupkanlah aku sebagai teroris dan matikanlah aku sebagai teroris dan himpunkanlah aku bersama para teroris…..” Ayo para Habib yang di Sunni, Syiah atau bahkan di Wahabi. Ayo bersatu, karena darah kalian adalah
    sama yaiitu Sy Muhammad SAW dan Imam Ali KWH. Jangan mau dipecah jadi tiga. ingat Imam Hasan AS pernah menggertak Imam Husain AS dalam menghadapi mu’awiyah. Tapi Kapal tetap jalan dan tidak bocor meski 2 Imam beda pendapat. jadi sesama Sayyid meski beda pendapat, tapi ayo saling menyanjung. ALLOHU AKBAR.

  29. Jie Ilga mengatakan:

    Assalamualaikum Wr Wbr

    Sungguh saya benar benar awam tentang diskusi ini,saya baru menemukan blog ini,dan saya personal yang baru belajar agama Islam,walaupun saya sudah pernah mebaca sedikit kitab nya Ibutamiyah,dan saya juga membaca beberapa kisah Ali bin Abi tholib banyak persi, Saya jadi benar benar bingung dalam hal ini, aku tahu islam ya islam hanya satu tapi begitu aku masuk kedalam nya,sungguh banyak perbedaan antara satu dengan yang lain nya,ya alloh tunjuki aku jalan yang lurus jalan orang orang yang engkau beri rahmat atas meraka sungguh aku ingin menjadi muslim yang baik dan benar amin……………..

  30. satia mengatakan:

    kelaut aja klo bingung hehrrrr

  31. rayi mengatakan:

    dulu namanya Khawarij, jadi ibnu Taimiyah adalah penerusnya

  32. uus rosadi salim mengatakan:

    mas semuanya coba simak yah yg namanya konsep allah ya urusan allah tidak mungkin diurus manusia,begitu pula ketika urusan manusia alloh tidak akan ikut campur contoh nih seorang nabi dan rosul diangkat oleh alloh jadi dusta atau mustahil ada manusia yang mengangkatnya,sebaliknya urusan manusia yg paling besar didunia utk urusan kepemimpinan adalah pengangkatan presiden ,nah ada gak presiden yang diangkat oleh allah ? gak ada kan karena itu urusan kecil bagi allah. sampai hukumanpun ketika allah tetapkan maka manusia tidak diperkenankan contoh hukuman dineraka adalah dibakar dg api maka dalam islampun tidak diperbolehkan menghukum manusia dg api kecuali abu bakar pernah menghukum orang berzina dg rajam dan dibakar api dan untung segera diperingati oleh imam ali as, nah yg terlupakan oleh kita pengangkatan seorang imam adalah hak allah lihat alqu,an surat albaqarah ayat 24 dimana allah telah mengangkat nabi ibrahim menjadi imam seluruh umat,jadi urusan imam umat adalah benar adanya urusan allah jadi kalau ada imam yang diangkat manusia itu adalah orang-orang yang melampaui batas dan tergolong orang-orang yg mengikuti hawa napsunya demi kekuasaan dan politik. sehingga wajar saja kualitas imam yang diangkat allah dan diangkat manusia amat jauh berbeda lihatlah imam ali as kuncinya ilmu pengetahuan bahkan mengetahui rahasia langit dan bumi dari awal penciptaan sampai akhir kiamat beda dg abu bakar dan umar ,dia menghukumi dg api karena tidak tahu hukum dan umar bab tayamum saja yg jelas dlm alqur,an gak ngeh juga makanya pengikut imam yg diangkat allah pikiranya lebih terbuka dan cenderung cerdas tapi pengikut imam yg dipilih manusia pola pikirnya dangkal dan cenderung panatik buta sama bodohnya dg imamnya. haidar 31-11-2011.

  33. ali mengatakan:

    ass……….saya mau tanyakan ayat palsu yang turun untuk imam ali aslnya dari mana ????? dan sapa yang mengatarnya

  34. Ali Karlat mengatakan:

    ass……………….saya mau tanyakan ayat palsu untuk imam ali asalnya dari mna………apa itu rekayasa???

    Kami

    Ayat palsu apa? Memangnya ada ayat palsu?

  35. abu turab mengatakan:

    Assalamu’alaikum afwan ana cuman mau komen aja bagi ana sih jelas bahwa kita harus mencintai apa2 yang di cintai oleh Nabi Muhammad Saww agar kita bisa meraih cinta ALLAH swt, karena Allah mencintai Nabi kita Muhammad SAWW. jadi jelas mutlak nya kita mencintai Ahlul Bayt nya karena banyak hadis yang menyatakan kecintaan Nabi Muhammad Saww kepada Ahlul Bayt nya. tinggal bagaimana ke imanan kita masing2 karena untuk bersholawat saja Allah SWT hanya memerintah kan kepada orang yang beriman ( Al Ahzab ayat 56 ) seperti dalam perintah Shaum ( puasa )yang di peruntukan kepada orang2 yang berimam. pada saat ayat perintah sholawat ini turun para sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad Saww ya rasullah bagaimana cara kami bersholawat lalu nabi mencontohkan sambil menngingatkan jangan lah kalian bersholawat buntung lalu di tanya kembali oleh para sahabat bagaimna sholawat buntung itu ya nabi, lalu nabi menjawab SHOLAWAT YANG TIDAK MENYERTAKAN KELUARGA KU……..

    Innalloha wa malaikatuh shollu ala nabi yaa ayuhalladzinna ammanu shollu alihim wasallim mustasliman

    ALLOHUMMA SHOLI ALA MUHAMMAD WA ALI MUHAMMAD

  36. […] Anda ketahui bersama dan juga dalam uraian panjang dan penuh data dalam artikel kami : Ayat Turun Untuk Imam Ali as. adalah Palsu!! … datanglah Ibnu Taymiah mengatakan dengan tanpa rasa tanggung jawab agama dan etika bahwa […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Negara Tamu

%d blogger menyukai ini: